Skip to main content

Search Modal

Kisah Perjalanan Toyota Hilux, Kendaraan Komersil Toyota yang Handal Dalam Berikan Solusi Mobilitas Terhadap Berbagai Macam Kebutuhan Dunia Usaha

Main Area

Main

Kisah Perjalanan Toyota Hilux, Kendaraan Komersil Toyota yang Handal Dalam Berikan Solusi Mobilitas Terhadap Berbagai Macam Kebutuhan Dunia Usaha

Kendaraan komersil, mulai dari pickup hingga heavy duty truck, punya peran sangat penting dalam menunjang roda perekonomian. Kendaraan jenis ini umumnya dipakai untuk mengangkut barang, baik yang dipakai di sektor pertambangan, perkebunan, perindustrian, maupun perdagangan, sehingga menawarkan nilai tambah bagi konsumen.

Sebagai perusahaan mobilitas, Toyota memberikan solusi mobilitas yang lengkap mulai dari mobil penumpang hingga deretan produk di sektor komersil yang dijual di berbagai belahan dunia. Salah satu yang sangat akrab di telinga adalah Toyota Hilux. Bermain di sektor truk ringan atau akrab disebut pickup (pikap), mobil yang pertama kali muncul di tahun 1968 ini berkembang menjadi salah satu ikon Toyota yang dikenal memiliki daya tahan yang sangat kuat dan konsumsi bahan bakar yang efisien. Berikut kisah singkat Hilux selama lebih dari setengah abad dipercaya oleh Toyota sebagai produk andalan dalam memenuhi kebutuhan mobilitas konsumen, khususnya dalam mengakomodasi berbagai macam kebutuhan mobilitas bisnis.

Truk Pertama Toyota

Sekitar 30 tahun sebelum Hilux pertama lahir, Toyota telah membuat model truk di tahun 1935, lebih cepat 1 tahun dari mobil penumpang Toyota pertama yakni Toyoda Model AA di tahun 1936. Truk ringan itu diberi nama Toyoda Model G1, dibuat untuk mendukung unit usaha saat itu di bidang pemintalan benang. Model G1 selesai diproduksi bulan Agustus 1935 dan dijual di akhir tahun 1935 oleh Hinode Motors sebagai dealer pertama Toyota.

Model G1 merupakan truk ringan yang mengandalkan mesin 3.389 cc 6-silinder bertenaga 65 PS pada 3.000 rpm, sama persis dengan milik Toyoda Model AA karena keduanya dikembangkan secara bersamaan. Hal ini menegaskan bahwa Toyota sudah menerapkan konsep berbagi komponen untuk berbagai model sejak awal produksi. Dimensi Model G1 cukup besar, bermodalkan panjang 5.950 mm, lebar 2.191 mm, dan wheelbase 3.594 mm, dengan kapasitas angkut maksimum 1,5 ton. Total ada 379 unit Truk Model G1 yang diproduksi.

Cikal Bakal Pikap Toyota

Lepas era Perang Dunia Ke-2, Toyota meningkatkan kapasitas produksi kendaraan komersil terkait upaya pemulihan ekonomi negara. Tidak heran jika kendaraan niaga jenis truk ringan menjadi salah satu target utama produksi, diantaranya dengan meluncurkan Toyopet RK23 di tahun 1956.

Dengan panjang hanya 4.290 mm, RK23 diposisikan sebagai light truck atau pikap. Tampilannya juga sudah lebih modern untuk truk di masanya, dengan bonnet memanjang dan sepasang lampu depan membulat sebagai ciri khas mobil di era tersebut. Ia juga memanfaatkan sasis ladder frame yang didedikasikan untuk truk ringan, berbeda dengan sasis truk Toyota lain yang umumnya menggunakan milik model sedan.

Sebagai mobil pengangkut ringan, RK23 menggunakan mesin bensin 1.453 cc 4-silinder bertenaga 48 PS pada 4.000 rpm. Tahun 1958, RK23 digantikan oleh RK30 yang sudah mengadopsi sinkromes pada transmisi dan memindahkan tuas transmisi ke kolom setir supaya bisa dinaiki oleh 3 orang. Supaya lebih akrab di telinga pelanggan, namanya diubah menjadi Toyopet Stout di tahun 1959 dan Toyota Light Stout di tahun 1963. Setelah itu, Light Scout dihentikan produksinya karena berada di segmen yang sama dan digantikan oleh Toyota Hilux.

Sejarah Awal Toyota Hilux

Memasuki tahun 1960an ada pergeseran tren desain truk Toyota. Guna meningkatkan daya angkut, hidung truk dihilangkan dan mesin dipindahkan ke bawah jok depan. Dengan begitu, bak truk bisa dibuat lebih panjang tanpa mengurangi dimensi keseluruhan truk sebagai upaya menambah kapasitas bak.

Toyota tetap mempertahankan mesin di depan pada Toyota Hilux yang pertama meluncur di tahun 1968. Kebutuhan sebagai pikap perkotaan yang tidak membutuhkan daya angkut barang besar membuat Hilux tidak perlu menanggalkan hidungnya. Selain itu, ruang mesin juga membuatnya tidak terlihat kaku dan tetap stylish sehingga cocok dipakai oleh warga kota pemilik usaha. Hal ini disesuaikan pula dengan asal namanya, yaitu High (tinggi) dan Lux (mewah) sehingga melepaskan kesan mobil angkutan barang.

Toyota juga melihat tren kendaraan komersil di Amerika Serikat, sebagai salah satu market terbesar yang lebih memilih mobil dengan hidung, bahkan hingga sekarang. Dan terbukti, Hilux bisa diterima di negara tersebut. Pasar AS begitu penting karena Hilux telah masuk ke sana sejak tahun 1969. Yang tidak kalah penting, secara safety model dengan hidung lebih melindungi penghuni kabin saat kecelakaan.

Hilux generasi awal mengadopsi konstruksi sasis terpisah antara kabin dan bak belakang, serta mengandalkan suspensi double wishbone di depan dan per daun (leaf spring) di belakang. Dengan daya angkut maksimal 1.000 kg, Hilux memakai mesin 1.490 cc 4 silinder bertenaga 70 PS pada 5.000 rpm serta transmisi manual 4-speed. Tahun 1971, Hilux memanfaatkan mesin lebih besar 1.587 cc 4-silinder bertenaga 83 PS pada 5.400 rpm, disertai opsi bak belakang standar atau lebih panjang.

Warna Oranye Untuk Pasar AS

Salah satu bentuk keseriusan Toyota menggarap pasar AS adalah dengan kemunculan Hilux generasi ke-3 tahun 1978. Salah satunya adalah pilihan warna Oranye disertai slogan "Hilux California -- born in Japan, raised in the U.S” pada brosurnya untuk menunjukkan jatidirinya sebagai produk Jepang yang pas untuk lifestyle warga di sana.

Model termahal Super Deluxe juga memperoleh benefit dari ruang kabin yang dibuat lebih panjang sekitar 90 mm sehingga lebih luas. Ia juga telah mengadopsi mesin serupa generasi kedua namun dengan standar emisi gas buang lebih baik. Termasuk aplikasi rem cakram untuk meningkatkan sektor safety dan membuatnya lebih andal di jalan aspal.

Masih ingat tulisan TOYOTA warna putih di pintu bak belakang Hilux yang ikonik? Generasi ke-3 pula yang menjadi pelopornya.

Hilux juga mencatat milestone di generasi ketiga dengan mencatat produksi lebih dari 1 juta unit di akhir tahun 1978, tepat 1 dekade sejak kemunculan di tahun 1968. Hilux mencatat peningkatan penjualan cukup signifikan di periode 1973-1978 dengan ekspor mencapai 800.000 unit lebih. Di Amerika Serikat, Hilux berhasil membangun pasar baru sebagai pikap untuk kebutuhan rekreasi. Sedangkan di negara lain, Hilux diposisikan sebagai kendaraan komersil dengan durabilitas dan nilai ekonomi tinggi.

Hilux dengan 4WD

Kisah generasi ketiga Hilux sebagai pionir inovasi tidak berhenti di sini. Model penggerak 4 roda (4WD) masuk ke dalam line-up Hilux di bulan Oktober 1979. Ia juga menggunakan mesin lebih besar 18R-J 2.000 cc 4-silinder bertenaga 109 PS. Tambahan fitur ini membuat keandalan Hilux di berbagai kondisi jalan kian meningkat dan membuatnya dapat diterima dengan baik di pasar global yang memiliki karakteristik medan jalan beragam.

Mesin Diesel dan Kabin Ganda

Di bulan Desember 1979, dapur pacu diesel Type L untuk pertama kalinya dipakai oleh Hilux berpenggerak roda belakang. Mengandalkan unit 2.188 cc 4-silinder sanggup menghasilkan tenaga 72 PS pada 4.2000 rpm dan torsi 14,5 kgm pada 2.400 rpm. Keberadaan dapur pacu diesel semakin memperkuat nilai jual Hilux di sektor komersil berkat mesin diesel irit dan tangguh.

Tidak berhenti sampai di situ, model kabin ganda (double cabin) dengan 2 deret bangku diperkenalkan di bulan Oktober 1981. Generasi ke-4 yang resmi meluncur di tahun 1983 memperoleh servis dari unit diesel 2L 2.446 cc 4-silinder bertenaga 76 PS dan torsi 15,8 kgm. Rentang usia mesin 2L sangat panjang karena sempat dipakai oleh Toyota Kijang Kapsul pikap yang beroperasi di Indonesia medio tahun 2000-2004. Ini berarti bahwa mesin diesel Toyota memang pantas untuk diandalkan sehingga bisa diterima oleh kalangan usaha.

Toyota Hilux Surf

Satu tahun setelah hadirnya Hilux generasi ke-4 tahun 1983, Hilux Surf diperkenalkan sebagai model SUV. Ada celah pasar baru di Amerika Serikat dari kalangan yang membutuhkan moda 4WD yang tidak hanya tangguh saat dipakai membawa perlengkapan selancar ke pantai, tapi juga nyaman dan praktis dikemudikan setiap hari. Pada saat itu, mereka sudah percaya atas keandalan Hilux sebagai pikap dan tinggal memoles agar pas tampil sebagai SUV.

Hilux Surf, atau 4Runner di pasar global, memiliki 2 pilihan mesin. Yang pertama adalah unit bensin 3Y-J 1.998 cc 4-silinder bertenaga 105 PS pada 5.200 rpm dan torsi 16,9 kgm pada 3.000 rpm. Berikutnya adalah mesin diesel 2L 2.446 cc 4-silinder bertenaga 83 PS pada 4.000 rpm dan torsi 16,9 kgm pada 2.400 rpm. Semua dengan pilihan penggerak 4x4.

Hilux Pertama di Indonesia

Hilux generasi 7 hadir di Indonesia pada tahun 2006 sebagai bagian dari Innovative International Multi-purpose Vehicle (IMV) project. Sebelumnya, segmen truk ringan atau pikap di Indonesia juga pernah diisi oleh Toyota Kijang untuk memenuhi kebutuhan kendaraan komersil serbaguna berharga terjangkau. Kijang pikap menjadi salah satu model paling dicari untuk kendaraan niaga ringan karena terbukti tangguh, irit, dan punya daya tahan tinggi.

Pada sejarahnya, Kijang tidak hanya hadir sebagai kendaraan niaga ringan, namun juga tampil sebagai kendaraan minibus dan menjadi ikon MPV di sini. Generasi Kijang Pikap datang bersama dengan model minibus hingga generasi Kijang Kapsul yang digantikan oleh Kijang Innova di tahun 2004.

Hilux generasi ke-7 secara global ini berbagi sasis dengan Kijang Innova dan Fortuner. Untuk pertama kalinya Hilux tidak lagi diproduksi di Jepang dan pindah ke Thailand, Argentina, dan Afrika Selatan. Termasuk produksi sebagian besar komponen mesin diesel di Thailand, mesin bensin di Indonesia, dan transmisi manual di India. Selanjutnya, Hilux diekspor ke negara-negara Asia, Eropa, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi Toyota untuk lebih mendekatkan produk ke negara yang menjadi target pasar. Dengan memperkuat produksi dan supply chain di wilayah tersebut, Toyota sanggup menekan biaya produksi sehingga membuat harga jual produk Toyota semakin kompetitif. Pun secara produk juga bisa diterima lantaran sesuai dengan kebutuhan pasar regional.

Langkah Toyota memasukkan Hilux dirasa pas dengan kondisi pasar lokal yang membutuhkan pikap serbaguna dan tangguh di segala medan jalan. Model single cabin (S-Cab) yang dipasarkan berbagi unit bensin dengan Kijang Innova, yakni 1TR-FE 1.998 cc VVT-i bertenaga 136 PS pada 5.600 rpm dan torsi 18,7 kgm pada 4.000 rpm. Saat itu tersedia opsi transmisi manual 5-speed dengan distribusi daya 4x4. Tahun 2007 barulah model 4x2 dihadirkan dengan pilihan model S-Cab dan cab & chassis.

Hilux D-Cab Bermesin Diesel

Seiring waktu, kondisi infrastruktur jalan Indonesia semakin baik dan pikap tidak lagi identik dengan pembawa barang. Ada keinginan pada sebagian pemilik pikap untuk tampil lebih bergaya di jalan dan meningkatkan daya angkut penumpang sehingga lebih fleksibel sebagai kendaraan harian. Melihat ceruk pasar tersebut, Toyota Indonesia mendatangkan Hilux Double Cabin (D-Cab) di tahun 2008.

Menariknya, Hilux D-Cab masuk dengan menggandeng mesin diesel berlimpah torsi 1KD-FTV 2.982 cc 4-silinder dengan suntikan turbo variabel VNT (Variable Nozzle Turbo) dan intercooler yang menghasilkan tenaga 163 PS dan torsi 35 kgm. Torsi yang dihasilkan benar-benar membuat Hilux menjadi kendaraan yang menyenangkan untuk dipakai di berbagai medan jalan dan disukai pecinta mobil lifestyle. Kodratnya yang tidak lenyap sebagai all rounder pick-up membuatnya juga banyak dipakai di perkebunan atau pertambangan.

Tahun 2011, Hilux memperoleh rombakan cukup besar di sektor mesin ditandai dengan aplikasi unit diesel 2KD-FTV 2.494 cc 4-silinder dengan suntikan turbo variabel VNT (Variable Nozzle Turbo) dan intercooler. Tenaga yang dihasilkan mencapai 142 PS pada 3.400 rpm dan torsi 35 kgm pada 1.600-2.800 rpm. Selain itu, Hilux Single Cabin mendapatkan opsi mesin diesel 2KD-FTV turbo common-rail tanpa VNT yang menjanjikan konsumsi bensin ekstra irit.

Hilux Generasi 8

Rancang bangun Hilux diposisikan sebagai kendaraan pengangkut barang. Alhasil, kenyamanan Hilux terasa kurang memadai untuk sebagian penggunanya, terutama yang sering membawanya keliling kota atau perjalanan jarak jauh. Ya, dengan tampilan modern dan stylish, Hilux begitu pas dipakai untuk menjelajah rute aspal mulus yang semakin banyak di Indonesia berkat kehadiran jalan tol dan jalan antar provinsi.

Tahun 2015, generasi ke-8 Hilux diluncurkan di Indonesia. Tampilan luarnya begitu mengedepankan desain sporty dan modern tanpa menghilangkan jejak sebuah kendaraan tangguh di segala medan. Tampil lebih macho dan kokoh, Hilux didesain dengan garis-garis yang lebih tegas dari generasi sebelumnya. Hilux hadir dengan tiga model, yakni single cabin, extra cabin, dan double cabin.

Sektor kenyamanan ditingkatkan, seperti jok ala bucket seat sehingga lebih nyaman untuk perjalanan jauh. Sebuah handle bar juga disediakan sehingga penumpang dapat duduk lebih stabil dengan berpegangan ketika diajak melalui medan non aspal. Hilux dilengkapi shockbreaker dengan travel lebih panjang sehingga kondisi dalam kabin lebih stabil dan nyaman saat ada guncangan serta lebih mudah melewati jalan rusak. Kabin juga dibuat kedap suara sehingga lebih senyap.

Kesan elegan dan stylish begitu terasa pada bagian interior. Panel dasbor dibuat lebih modern. Sejumlah tombol fungsional seperti pengaturan audio, AC dan penerima telepon juga tersedia. Tidak hanya itu, setir dengan desain baru yang lebih sporty juga disematkan. Jika memerlukan ruang untuk menaruh barang, kursi penumpang belakang dapat dilipat. Payload capacity dalam kabin juga lebih lapang dan menghilangkan atmosfer mobil niaga.

Bermanuver sulit akan lebih aman dengan adanya rem ABS+EBD. Saat rem mendadak, lampu hazard secara otomatis akan menyala guna mengurangi risiko tabrak belakang. Untuk menghindari slip saat menuruni bukit, ada fitur Down Hill Assist Control. Agar traksi terjaga di medan yang sulit, Hilux dilengkapi dengan rear differential lock sehingga mengurangi potensi mobil terjebak lumpur. Sebagai perlindungan standar, disediakan SRS Airbag di kabin depan dan knee airbag di area sopir.

Mesin yang digunakan masih sama dengan generasi sebelumnya, yakni unit bensin dan diesel non VNT untuk model single cabin, dan diesel VNT untuk model extra cabin dan double cabin. Selain varian yang sudah ada yaitu Single Cabin 2.0 Gasoline, Single Cabin 2.5 Diesel, Double Cabin 2.5 V 4x4, Double Cabin 2.5 G 4x4 dan Double Cabin 2.5 E 4x4, tersedia juga varian Extra Cabin 2.5 E 4x4.

Hilux Kembali Diperkenalkan di Jepang

Bersamaan dengan meluncurkan generasi ke-8, Hilux kembali diperkenalkan ke pasar Jepang di bulan September 2017, 13 tahun setelah tidak lagi diproduksi di negeri Matahari Terbit ini. Hilux tidak kehilangan penggemarnya di sana sehingga dijual kembali untuk memuaskan dahaga pecintanya.

Kesuksesan Hilux juga dibuktikan di pasar global. Penjualan Hilux telah melampaui angka 19 juta unit di seluruh dunia sejak pertama lahir di tahun 1968. Serta telah dijual di lebih dari 180 negara di berbagai belahan dunia, 6 negara juga bertindak sebagai basis produksi dimana Thailand dan Afrika Selatan telah memulai sejak tahun 1976.

Hilux versi Jepang menggunakan mesin 2GD-FTV 2.400 cc bertenaga 147 PS dan torsi 40,8 kgm yang diteruskan ke penggerak 4 roda part-time via transmisi otomatis 6-speed. Safety features terbilang lengkap seperti Pre-Collision System with Pedestrian Detection, Lane Departure Alert, Hill-start Assist Control, Active Traction Control, dan Downhill Assist Control.

Mesin Anyar Hilux Versi Indonesia

Kebutuhan masyarakat perkotaan atas kendaraan ramah lingkungan, irit bahan bakar namun tetap bertenaga menjadi jurus lanjutan kemunculan Hilux bermesin baru di tahun 2017. Mesin 2KD-FTV diganti oleh 2GD-FTV 2.400 cc yang lebih bertenaga dan efisien. Pergantian ini dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan pecinta Hilux 4x4 di segmen private dan komersil yang menyukai kendaraan dengan power lebih besar dan desain lebih kokoh.

Meski kapasitas mesin lebih kecil, tapi faktanya tenaga dan torsi Hilux justru meningkat, yaitu 147 PS dan 40,8 kgm. Guna menunjang kinerja mesin anyar, transmisi otomatis 6-speed seperti yang digunakan oleh Fortuner ikut disematkan. Selain itu, versi Double Cabin 4x4 sudah dilengkapi dengan differential lock untuk meningkatkan kemampuan melahap medan off-road. Khusus tipe V, terdapat fitur Hill Start Assist (HSA) yang berfungsi untuk menjaga mobil agar tidak tidak mundur saat start di tanjakan.

Single Cabin Pakai Mesin 2GD-FTV

Mesin bensin pada Hilux D-Cab memasuki masa purna tugas dan digantikan oleh unit diesel 2GD-FTV yang sepenuhnya sama dengan milik versi double cabin di tahun 2019. Sedikit dibedakan, model 4x2 hanya menghasilkan torsi 35 kgm, sedangkan model 4x4 tetap 40,8 kgm. Walau memberikan kabin ekstra di belakang kabin sopir, namun penjualan model Extra Cabin juga dihentikan di tahun 2019.

Hilux Catat Prestasi Mengagumkan di Ajang Reli Dakar

Salah satu ajang uji coba ketangguhan Hilux adalah dengan mengikuti Reli Dakar yang telah mulai diikuti sejak tahun 2012 yang diwakili oleh tim Toyota Racing Afrika Selatan, dan langsung meraih kemenangan pertama Toyota dengan menempati posisi ketiga klasemen umum dengan pembalap Giniel De Villiers dan navigator Dirk von Zitzewitz.

Sejak unjuk performa di Reli Dakar, tim mencatat hasil keseluruhan terbaik ke-3 (2012), ke-2 (2013), ke-4 (2014), ke-2 (2015), ke-3 (2016), ke-5 (2017), dan ke-2 (2018). Tahun 2019, torehan emas dibuat oleh pembalap Nasser Al-Attiyah dan Mathieu Baumel sebagai co-driver. Di tahun 2020, Nasser dan Mathieu kembali naik ke podium sebagai juara umum kedua.

Toyota Hilux yang dipakai masuk ke dalam kelas paling bergengsi Super Production (T1.1). Oleh sebab itu, untuk ajang Reli Dakar 2020 lalu, Hilux dipersenjatai mesin ultra 5.000 cc V8 yang sanggup menghasilkan tenaga hingga 385 PS dan torsi dahsyat 66,3 kgm. Hilux mengandalkan sistem suspensi independen, mesin yang dipasang di tengah, penggerak all-wheel drive, dan pembalap yang duduk tepat di belakang roda depan.

Latest Article
©2020 TOYOTA ASTRA MOTOR
ALL INFORMATION APPLIES TO INDONESIA VEHICLES ONLY